Showing posts with label Wacana. Show all posts
Showing posts with label Wacana. Show all posts

Friday, September 19, 2008

Belajar Memberi Makna

Semua berjalan seperti biasa. Kebanyakan orang-orang di sini, Korea, hanya tahu bahwa ini adalah bulan September. Di sepanjang jalan jarang ditemukan spanduk-spanduk bertuliskan “Marhaban Ya Ramadhan”, atau mungkin tak ada sama sekali. Ketika menyalakan televisi pun, tak ada acara-acara spesial seperti sinetron Ramadhan, di mana para artis tiba-tiba menjadi alim berjilbab. Ya, euforia Ramadhan yang biasanya ditemui di tanah air setiap setahun sekali, di sini hanya senyap.

Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim, mungkin memang memiliki ciri khas tersendiri dalam menyambut dan menjalankan Ramadhan. Bisa jadi, Indonesia pada masa Ramadhan adalah objek yang sangat menarik untuk diteliti para sosiolog. Bagaimana tidak, banyak sekali ketiba-tibaan yang terjadi dalam kurun waktu tersebut. Dan bagi mereka yang jeli melihat peluang bisnis, Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk menggugah sifat konsumtif manusia. Berbagai department store memasang besar-besar spanduk “SALE RAMADHAN” atau “SALE LEBARAN”. Berbondong-bondong pembeli datang untuk berbelanja, bahkan mungkin menghabiskan sebagian besar waktunya di mal-mal. Padahal di rumah mereka, Alquran tergeletak begitu saja menanti untuk dibaca oleh pemiliknya. Apakah Ramadhan telah mengalami pergeseran makna?

Sore itu, di tengah segala suasana yang serba “biasa”, saya berjalan di sekitar Yuseong, Daejeon. Kertas “post-it” kuning bertuliskan petunjuk menuju Daejeon Islamic Center terus saya perhatikan. Turun di halte bus yang salah membuat awalnya saya agak kebingungan arah, namun sesaat kemudian saya menemukan jalan menuju ke tempat tersebut. Jangan dikira tempatnya megah atau indah dihiasi kubah-kubah masjid seperti di Indonesia. Di sepanjang jalan itu, berderet bangunan ruko, dari restoran sampai toko kaca mata. Jika tidak diperhatikan baik-baik, mungkin saya hanya akan berlalu dan tak dapat menemukan tempat bernama Daejeon Islamic Center, yang dari namanya bisa diartikan bahwa tempat tersebut adalah pusat studi, kajian, dan berkumpulnya orang-orang islam di Daejeon. Tempat itu berada di salah satu kawasan ruko yang cukup padat, berada di ruko lantai dua, dan tepat di bawahnya adalah sebuah bar. Sungguh sebuah ironi yang entah mesti dibilang menyedihkan atau membanggakan.


Lingkaran pengajian itu dihadiri tak lebih dari sepuluh orang wanita, bersyukur sekali saya berkesempatan menjadi satu di antaranya. Satu per satu, kami membaca surat Al-Qadr yang berarti “Kemuliaan”.

(1) Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada malam kemuliaan. (2) Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (3) Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. (4) Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. (5) Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (Q.S. Al-Qadr: 1-5)

Seorang wanita asal Mesir, yang oleh orang-orang lainnya dipanggil dengan sebutan “mu'allimah”, memandu pertemuan hari itu. Entah mengapa, setiap kali ia membicarakan keagungan dan membacakan hadits-hadits mengenai Ramadhan , hati ini terasa bergetar. Padahal sebagian dari yang ia bicarakan, sudah pernah saya ketahui sebelumnya. Konon menurut sebagian ahli tafsir Alquran, mengapa dalam surat Al-Qadr disebutkan bahwa malam Lailatul Qadr lebih baik dari seribu bulan ialah karena seribu bulan setara dengan 83 tahun. Dan 83 tahun adalah perkiraan batas usia manusia. Jadi malam Lailatul Qadr nilainya lebih baik dari pada seumur hidup kita. Subhanallah...

Maka do’a yang diajarkan Rasulullah adalah, “Ya Allah, sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan…”

Ada sebuah kisah tentang betapa agungnya Ramadhan. Pada suatu hari, seorang sahabat datang kepada Rasulullah SAW untuk menceritakan mimpinya. “Ya Rasul, aku memimpikan dua orang sahabat, mereka berdua selalu bersama dalam melakukan amal kebaikan. Salah seorang di antara mereka syahid dalam suatu perang. Dan seorang lainnya meninggal di tahun berikutnya ketika ia sedang tidur. Namun anehnya, sahabat yang meninggal saat tidur itu berada di surga yang lebih tinggi daripada sahabat yang syahid di medan perang.”

Dan Rasulullah menjawab, “Tahukah engkau, hal itu dikarenakan sahabat yang meninggal setahun setelahnya memiliki kesempatan untuk sampai pada bulan Ramadhan selanjutnya. Dan pada bulan itu ia beribadah dengan sungguh-sungguh.”

Maka tak salah jika do’a yang diajarkan Rasulullah adalah, “Ya Allah, sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan…”

Di negeri ginseng ini semua berjalan seperti biasa. Tak ada atmosfer kemeriahan Ramadhan seperti di tanah air. Ah, tapi bukankah atmosfer itu harus kita ciptakan sendiri? Bukan hanya atmosfer yang terasa dari acara-acara televisi atau diskon-diskon dadakan yang diadakan oleh berbagai department store? Atmosfer itu ada di sini, di dalam hati kita. Kita tanamkan pada diri kita untuk beribadah sebaik yang kita mampu dan jadikan Ramadhan ini penuh makna. Kita tak pernah tahu, akankah kita sampai pada Ramadhan berikutnya...?

Daejeon, 8 September 2007 (Maisya)

Wednesday, September 17, 2008

Muhammad Amin Al Husaini dan Kemerdekaan RI

Syekh Muhammad Amin Al Husaini seorang ulama yang kharismatik, mujahid, mufti Palestina yang memiliki perhatian dan kepedulian terhadap kaum muslimin serta negeri-negeri muslim, termasuk Indonesia, walaupun pada saat itu beliau sedang berjuang melawan imperialis Inggris dan Zionis yang ingin menguasai kota Al Quds, Palestina. 

Beliau memiliki nama lengkap Muhammad Amin bin Muhammad Thahir bin Musthafa Al Husaini gelar Mufti Falestin Al Akbar (Mufti Besar Palestina), lahir di Al Quds pada tahun 1893. Diangkat menjadi mufti Palestina pada tahun 1922 menggantikan saudaranya Muhammad Kamil Al Husaini.

Sebagai ulama yang berilmu dan beramal, memiliki wawasan yang luas, kepedulian yang tinggi, Syekh Muhammad Amin Al Husaini mengetahui dan merasakan penderitaan kaum muslimin di Asia dan Afrika, termasuk Indonesia akibat penjajahan yang dilakukan kaum kolonial.Dukungan terhadap kaum muslimin dan negeri-negeri muslim untuk merdeka dari belenggu penjajahan senantiasa dilakukan oleh Syekh Muhammad Amin Al Husaini, termasuk dukungan bagi kemerdekaan Indonesia. 

Ketika tidak ada suatu negara dan pemimpin dunia yang berani memberi dukungan secara tegas dan terbuka terhadap kemerdekaan bangsa Indonesia, maka dengan keberaniannya, Syekh Muhammad Amin Al Husaini mufti Palestina menyampaikan selamat atas kemardekaan Indonesia. 

M. Zein Hassan Lc. Lt. sebagai pelaku sejarah, didalam bukunya yang berjudul Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri, Penerbit Bulan Bintang Jakarta, 1980, hal. 40, menjelaskan tentang peranserta, opini dan dukungan nyata Syekh Muhammad Amin Al Husaini secara terbuka mengenai kemerdekaan Indonesia :

“Sebagai contoh, pada 6 September 1944, Radio Berlin berbahasa Arab menyiarkan ‘ucapan selamat’ mufti Besar Palestina Amin Al Husaini (melarikan diri ke Jerman pada permulaan perang dunia ke dua) kepada Alam Islami, bertepatan ‘pengakuan Jepang’ atas kemerdekaan Indonesia. Berita yang disiarkan radio tersebut dua hari berturut-turut, kami sebar-luaskan, bahkan harian “Al Ahram” yang terkenal telitinya juga menyiarkan.” 

Syekh Muhammad Amin Al Husaini dalam kapasitasnya sebagai mufti Palestina juga berkenan menyambut kedatangan delegasi “Panitia Pusat Kemerdekaan Indonesia” dan memberi dukungan penuh. Peristiwa bersejarah tersebut tidak banyak diketahui generasi sekarang, mungkin juga para pejabat dinegeri ini. Sehingga tidak mengherankan ada suara yang sumir, minor, bahkan sinis ketika ada anak negeri ini membantu perjuangan rakyat Palestina untuk merdeka, membebaskan tanah airnya dan masjid Al Aqsha dari belenggu penjajah Zionis Israel. 

“Kenapa kita mikirin negeri Palestina? Negeri sendiri saja banyak masalah!”. Itulah ungkapan orang yang egois, orang yang berpikiran parsial, orang yang wawasannya hanya dibatasi teritorial yang sempit. Kalimat tersebut diatas merupakan gambaran orang yang tidak pandai bersyukur, orang yang tidak pandai berterima kasih, ibarat pepatah mengatakan, ”seperti kacang lupa dengan kulitnya”.

Disinilah pentingnya mengenal dan mengetahui sejarah, sehingga tidak mudah dibodohi orang, ada kata-kata hikmah, “orang yang tahu sejarah akan punya ‘izzah”. “Orang yang paling banyak bersyukur kepada Allah adalah orang yang paling banyak berterima kasih kepada manusia”. (HR. Thabrani). 

“Tidak dianggap bersyukur kepada Allah orang yang tidak berterima kasih kepada manusia”.(HR. Abu Daud). Seharusnya kita berfikir dan merenung, kenapa Indonesia, negeri yang subur dan memiliki sumberdaya alam yang melimpah, sumber daya manusia yang potensial tidak dapat memberikan kesejahteraan kepada rakyat? Mungkin salah satu sebabnya adalah karena kita tidak pandai bersyukur, tidak pandai berterima kasih.

Perhatikanlah peringatan Allah dalam Al Qur’an: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih".(QS: Ibrahim/14:7).  

Setelah berjuang tanpa kenal lelah, Syekh Muhammad Amin Al Husaini wafat pada tanggal 4 Juli 1974, di makamkan di pekuburan Syuhada’, Al Maraj, Beirut, Libanon. Kaum muslimin dan tokoh pergerakan Islam menangisi kepergian ulama pejuang, pendukung kemerdekaan Indonesia, mufti pembela tanah waqaf Palestina, penjaga kemuliaan masjid Al Aqsha. 
Semoga Allah mengampuni segala dosa dan kesalahannya, menerima amal jihadnya dalam membela tempat suci kaum muslimin, kota Al Quds.
(Sumber: www.kispa.org tulisan ini sudah mendapat izin langsung darioleh : H. Ferry Nur S.Si, Sekjen KISPA)