Showing posts with label Oase Iman. Show all posts
Showing posts with label Oase Iman. Show all posts

Tuesday, October 21, 2008

Berdakwah dengan pena....

Ada banyak jalan yang kita pilih dalam mendalami arti pencarian jati diri. Kadang kita harus bergolak riang dengan segala ujian kebahagiaan dan pujian. Tapi juga kadang kita diajarkan bersabar dengan ujian dan musibah. Semua itu mengajarkan kita untuk menyikapi sesuatu dengan cara yang benar, tidak merepotkan, dan mendatangkan faedah.


Allah mengajarkan kita untuk bertafakkur, mencari arti dari semua yang terpindai oleh penglihatan kita, semua yang tercetak dalam fikiran kita. Ber-tafakkur, Allah menyuruh kita.
Apakah Allah hanya memerintahkan tanpa memberi petunjuk tentang bagaimana melakukannya? Coba fikirkan lagi!


Sekarang, coba kita kembali mempelajari arti tafakkur itu. Dalam surah Ali Imran ayat 189-190 Allah berfirman: "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi mereka yang berakal, (yaitu) yang mengingat Allah pada saat dia berdiri, duduk, dan bahkan tidurnya. Dan yang memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi." (Q.S Ali Imran 189-191)
Maka itulah caranya! cara untuk menjadi orang yang terus-terusan mengingat Allah dengan memanfaatkan nikmat fikiran yang dkaruniakan oleh-Nya.



Sekarang, apakah sesederhana itu? Tunggu dulu.... Allah tidak akan mengajar kita secara setengah-setengah. Allah akan memberikan petunjuk dan imbalan yang sesuai. Perhatikan ayat berikut ini:
" ..., bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Mulia. Yang mengajar manusia dengan pena (kalam). Dia mengajarkan menusia apa yang tidak diketahuinya." (Q.S Al Alaq 3-5)
Apakah ini bentuk keadilan? Ya, Dia Maha Adil!



Kita diperintahkan untuk belajar, bertafakur dengan membaca alam, serta menulis.
Pena
yang menjadi benda yang pertama diajarkan oleh Allah kepada kita, akan menjadi alat bagi kita untuk belajar setelah kita berhasil mengeksplorasi dengan membaca (Iqra).


Nah, sekarang kita menyadari bahwa ada beberapa petunjuk khusus yang diberikan oleh Allah SWT dalam menjalani kehidupan dengan mengejar kesuksesan. Seperti halnya Allah mengajarkan kita perniagaan dengan usaha yang disebutkan dalam Al Quran, Allah juga mengajarkan kita untuk menulis dan membaca sebagai satu-satunya cara untuk mengembangkan ilmu.


Maka, beruntunglah orang-orang yang saat ini menjadi penulis untuk kehidupan. Entah untuk kesenangan pribadinya, atau untuk menjalankan perintah vital dalam Islam, Ibadah dan dakwah.
Hal-hal kecil yang terjadi dalam tiap hari yang kita lewati, itulah yang akan menjadi bibit munculnya hal-hal besar, prestasi-prestasi luar biasa. Tulislah itu semuanya.
Biarkan kertas dan licinnya tinta mengantarkan pesan hati kita. Biarkan lipatan buku mengantarkan pesan kita kepada makhluk-Nya yang lain.



Biarlah prestasi kita ini yang mengatakan kepada dunia bahwa, Kita adalah salah satu hamba yang berhasil menggunakan ajaran Allah



Ayo menulis! [Fandi Sido, diambil dari posting di SELF REVOLUTION www.afsee.blogspot.com]

Wednesday, September 17, 2008

Bereksistensi dengan Kekuatan Visi

Mengapa kita ada dan untuk apa keberadaan kita?

Dari sekian miliar jiwa, mungkin hanya segelintir orang yang mau berpikir tentang hal itu. Dan dari segelintir orang tersebut, mungkin hanya sedikit pula yang berhasil menemukan jawabnya.

Mampukah kita menjadi bagian dari yang sedikit itu?

Kemungkinan itu pasti jika kita menyadari esensi kita sebagai manusia dengan menentukan visi dan misi sejati dalam hidup ini. Sebagai seorang muslim, sudah sangat jelas bahwa kesejatian visi itu terletak pada alam akhirat (surga). Telah banyak contoh yang ditinggalkan oleh tokoh-tokoh terdahulu yang mereka telah berhasil menyempurnakan hidupnya karena kuatnya visi dan misi hidup mereka, sehingga sangat tidak logis jika kita merasa kehilangan teladan dalam pencetakan diri seorang muslim.

Khadijah binti Khuwailid, beliau merupakan salah satu wanita yang memiliki keteguhan hati dan kebulatan tekad untuk mewujudkan visi utamanya yaitu menggapai keridhaan Allah dan Rasul Nya. 

Khadijah yang dikenal sebagai “wanita suci”, rela mengorbankan kepentingan pribadinya demi tergapainya misi dan visi hidupnya. Segala penderitaan selama mendampingi dakwah Rasulullah SAW beliau lalui dengan penuh keikhlasan dan kesabaran serta keteguhan seorang istri. Beliau selalu berlapang dada, ketika sang suami harus menjauh darinya untuk berkhalwat di gua Hira’. Harta benda yang beliau miliki, beliau ikhlaskan untuk berjuang sepenuhnya di jalan Allah SWT. Sebagaimana yang beliau lakukan pada waktu terjadi pemboikotan terhadap kaum muslim secara ekonomi, politik, dan sosial selama tiga tahun beliau tampil mengeluarkan segala yang dimilikinya untuk meringankan beban kaum muslim.

Apa yang dikorbankan oleh Khadijah bukanlah sesuatu yang sia-sia karena beliau berhasil mewujudkan visinya, sebagaimana sabda Rasulullah: “Sebaik-baik wanita surga adalah Maryam binti ‘Imran dan Khadijah binti Khuwailid” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja untuk mengatakan: ‘Kami beriman’, sedang mereka tida diuji?” (QS. Al-Ankabut :2)

Demikian juga kita belum dikatakan sebagai manusia yang memiliki wujud diri secara utuh sebelum kita tahu visi dan misi hidup kita. Dan visi misi tersebut belum dikatakan ada jika kita tidak berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkannya. Wallahu a’lam bishawab. 
[Anita]